Sudah Tahukah Kita tentang Mahram…???

Posted on 12 September, 2008. Filed under: Fiqih Islam | Tag:, |

mahram kita...???

Siapa saja mahram kita...???

Al Ustadz Muhammad Sarbini

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya di-fathah.
Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.

Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).

Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:

  1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita
  2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
  3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu
  4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
  5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
  6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
  7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita

Mereka inilah yang dimaksudkan Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…” (An-Nisa: 23)

Kelompok kedua, juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.” (An-Nisa 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susu itu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu. Ini menunjukkan secara tanbih bahwa suaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandung dari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama. Maka ayat ini dan hadits yang marfu’ (artinya): “Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena punyusuan.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Abbas), keduanya menunjukkan tersebarnya hubungan mahram dari pihak ibu dan ayah susu sebagaimana tersebarnya pada kerabat (nasab). Maka ibu dari ibu dan bapak (orang tua) susu misalnya, adalah mahram sebagai nenek karena susuan dan seterusnya ke atas sebagaimana pada nasab. Anak dari orang tua susu adalah mahram sebagai saudara karena susuan, kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara (keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah.
Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.
Adapun dari pihak anak yang menyusu, maka hubungan mahram itu terbatas pada jalur anak keturunannya saja. Maka seluruh anak keturunan dia, berupa anak, cucu dan seterusnya ke bawah adalah mahram bagi ayah dan ibu susunya.
Hanya saja, berdasar pendapat yang paling kuat (rajih), yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya.” (Al-Baqarah: 233)

Dan Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha muttafaqun ‘alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.
Dan yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.

Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:

  1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.
  2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.
  3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.
  4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.

Nomor 1, 2 dan 3 hanya menjadi mahram dengan akad yang sah meskipun belum melakukan jima’ (hubungan suami istri). Adapun yang keempat maka dipersyaratkan bersama dengan akad yang sah dan harus terjadi jima’, dan tidak dipersyaratkan rabibah itu harus dalam asuhannya menurut pendapat yang paling rajih yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu.

Dan mereka tetap sebagai mahram meskipun terjadi perceraian atau ditinggal mati, maka istri bapak misalnya tetap sebagai mahram meskipun dicerai atau ditinggal mati. Dan Rabibah tetap merupakan mahram meskipun ibunya telah meninggal atau diceraikan, dan seterusnya.

Selain yang disebutkan di atas, maka bukan mahram. Jadi boleh seseorang misalnya menikahi rabibah bapaknya atau menikahi saudara perempuan dari istri bapaknya dan seterusnya.

Begitu pula saudara perempuan istri (ipar) atau bibi istri, baik karena nasab maupun karena penyusuan maka bukan mahram, tidak boleh safar berdua dengannya, berboncengan sepeda motor dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, berjabat tangan, dan seterusnya dari hukum-hukum mahram tidak berlaku padanya. Akan tetapi tidak boleh menikahinya selama saudaranya atau keponakannya itu masih sebagai istri hingga dicerai atau meninggal. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Dan (haram atasmu) mengumpulkan dua wanita bersaudara sebagai istri (secara bersama-sama).” (An-Nisa: 23)

Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu muttafaqun ‘alihi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengumpulkan seorang wanita dengan bibinya sebagai istri secara bersama-sama. Wallahu a’lam bish-shawab.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As-Sa’di, Syarhul Mumti’, 5/168-210)

About these ads

Make a Comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

41 Tanggapan to “Sudah Tahukah Kita tentang Mahram…???”

RSS Feed for FSI Al Kaun’s Weblog™ Comments RSS Feed

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
kalau mahram dari kalangan laki-laki bagi pihak wanita siapa saja?

Admin’s Answer :
‘Alaykumussalam wa rahmatullah wa barakatuh
Mahram bagi pihak wanita dari kalangan laki – laki adalah…“…Bapaknya, anaknya, suaminya, saudara laki-lakinya atau mahram dari wanita tersebut.” (HR. Al Bukhari, lihat Fathul Baari :11/26)

Dari hadits di atas, dapat kita tarik bahwa mahram wanita adalah…
1. Ayahnya
2. Suaminya
3. Paman (adik/kakak lelaki dari ibu)
4. Paman (adik/kakak lelaki dari ayah)
5. Anak lelakinya
6. Saudara kandungnya
7. Kakeknya

Ini juga bisa anti lihat di QS. An Nisa ayat 23. Wallahu Ta’ala A’lam…

assalamu’alaikum……..
kalau saudara sepupu termasuk mahram pa bukan.

jazakumulloh khoiron katsiiro…

Admin’s answer :
‘Alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.
Bukan mahram akhi. Waiyyaka…

kutipan dr artikel diatas:
‘tidak boleh safar berdua dengannya, berboncengan sepeda motor dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, berjabat tangan, dan seterusnya..’

YG BKN MAHRAM…INGAT2!!

kasian klo liat akhwat skrg, mrk jalan2 sendirian tanpa mahram.. entah mereka tidak takut diganggu, atau mereka tidak merasa jd gangguan.

kadang mpe malèm2.. pingin bantu, tapi..

[...] nisa di Sudah Tahukah Kita tentang… [...]

assalamu’alaikum………
klo suami kakak(kakak ipar)gmn,mahram bkn?
maaf klo dimaksud mahram sementara itu apa sih??

Admin’s answer:
Wa’alaykumussalam wa rahmatullah
Bukan mahram ukhti…Bahkan dikatakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa saudara ipar adalah kematian. Maksudnya banyak orang yang celaka menganggap ipar – ipar mereka adalah mahram, padahal mereka bukan mahram.
Mahram sementara…??? Wallahua’lam, kami belum pernah mendapati istilah ini.

ASSALAMU’ALAYKUM. APAKAH SAUDARA KAKEK (PAMAN DARI IBU ATAU AYAH) JUGA MAHROM?

Admin’s answer:
Wa’alaykumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.
wallahu ta’ala a’lam, jika dalam QS. An Nisa : 23 yang kami sebutkan di atas tidak ada / tidak tertera yang anti maksud, berarti bukan mahram.
Lebih baiknya coba ditanyakan kepada ustadz…

Assalamu’alaikum..

Bagaimana hukumnya jika saya menikah dengan anak dari kakak laki-lakinya ibu saya? Mahram atau tidak?

Admin’s says:
Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuhu.
Boleh, karena sepupu bukan termasuk mahram. Wallahua’lam…

hmm..,
bagus..!!

barakallahufikum
Acungin jempol ^_^V

ass.
bagaimana kLo saya (perempuan) menikah dg spupu laki-laki dari sepupu laki-laki saya..
wLaikumsLm..

Admin’s Say :
Boleh, wallahua’lam…
karena dia bukan mahram anda…

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
bolehkah saya menikah dengan sepupu (perempuan) anak dari adik laki-laki bapak saya (anak paman saya dari bapak saya)
troma kasih..

assalamualaikum..bolehkah saya menikah dgn anak dr sepupu saya(anak dr kakaknya ayah saya punya anak laki2)..apakah boleh?mhoN dijawaB..Saya tUnggu.terimaksh..wassalamualaikum

Admin’s Answer:
Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuhu.
Boleh insya Allah, karena dia bukan mahram mbak lina maka menikahlah dengannya. Wallahua’lam

AssaLamu’aLaikm,,
kLu saYa (peRmpuan) mNikah dNgan aNak Laki2 daRi saudRa Laki2 aYah saYa, bLeh tDak ??
sYukr0n,,

Assalamualaikum

Bolehkah saya (soerang wanita) menikah dengan adik kandung dari kakak ipar saya?

Terima Kasih

Admin:
Wa’alaikumussalaam warahmatullah.
Bpleh mbak, karena adik kandung ipar anda bukan mahram anda. wallahua’lam

Wassalamualaikum

apakah saudara kandung saya mahram buat saudara susu saya?kasusnya saya menyusu kepada seorang wanita ketika kecil, dan sudah memenuhi kadar mahram karena susu, jika saudara sesusuan saya dari pihak wanita itu haram untuk saya, apakah saudara kandung saya haram juga untuk saudara susu saya..

Admin say’s:
Tentu saja tidak. Karena yang menjadikan mahram hanyalah anda dan anak – anak dari wanita ibu susu anda. Sedangkan saudara kandung anda, tidaklah sama sekali membuat mahram di antara mereka. Wallahua’lam.

Asalamualaikum

Mohon di jelaskan kembali tentang hukum menikah dengan adik dari kakak ipar.

Terimakasih

Admin says:
Wa’alaikumussalaam.
Menikah dengan adik dari kakak ipar adalah boleh, karena dia bukan mahram anda. Dan yang bukan mahram anda, maka anda diperbolehkan menikah dengannya. Wallahua’lam

assalamu’alaykum..baarokallahu fiikum..http://tentarakecilku.blogspot.com

bolehkah jika saya (perempuan) menikah dengan adik dari kakak ipar (suami dari kakak perempuan) saya ?
terima kasih

Admin Says:
Boleh mbak, karena sejatinya dia bukan mahram terhadap mbak. Wallahua’lam…

bolehkah saya menikahi adik dari kakak ipar sepupu saya. Mksh

Admin says:
Boleh Pak Andi, insya Allah…

Saya (cucu perempuan), bolehkah menikahi anak laki2 dari Adik Kakek saya
keterangan: (Dia anak laki2 dari adik kakek saya(Keponakan kakek ),, dan saya adalah cucu dari kakek saya)

Bolehkah saya menikah dengan kemenakan saya (anak dari sepupu satu kali, bapak kami bersaudara berarti anaknya adalah kemenakan saya) ?, mohon jawabannya, trims.

assalamu’alaikum wr.wb.
bolehkah saya menikah dengan adik dari kakak ipar saya..???

assalamualaikum..
mau tanya apakah boleh kita nikah dengan anak dari saudara nenek kita?
mohon bantuannya..

assalamu’alaikum
barakallahufiih

apakah istri dari bapak mertua saya (ibu tiri istri saya) adalah mahram buat saya?
jazakallahu khoir

asslamu’alaikum..sy mw tny..sya kn pny mas nha ms sy nkah sm prempuan, dn perempuan pny adk laki2 apakah sy bleh menikah dg laki2 tsb?

Assalamu‘alaykum,

Bolehkah saya menikah dengan anak dari sepupu ibu? Terimakasih

Wassalamu‘alaykum.

FSI Al Kaun:
Wa’alaikumussalaam Warahmatullah.
Diperbolehkan bagi antum untuk menikah dengan anak dari sepupu Ibu antum.

asalamualaiku…

ustad saya mau bertanya boleh tidak saya menika dengan adik ipar om saya.saya tau menurut islam boleh tapi pihak dr keluarga menentang,karna adat dan budaya tidak membolehkan.kata orang tua say reziko yg akan terjadi sangat patal.saya suda menjelaskan tapi mereka lebi mengutamakan adat & budaya yang menurut saya itu bertentangan dengat agama islam.

saya harus gimana ustad??

FSI Al Kaun:
Wa’alaikumussalaam Warahmatullah
Untuk demikian, mohon antum menjelaskan perkaranya dengan membawa referensi dari dalil2 yang shahih dan tunjukkanlah ilmu. Kemudian sampaikan hal itu dengan bahasa yang halus serta lembut agar hati orang tua antum terbuka…
Semoga dengan demikian prang tua antum diberikan Allahu ta’ala hidayah.
Wallahua’lam…

misalkan saya punya canggah (neneknya bapak), canggah saya punya saudara. nah saudara canggah saya itu adalah nenek dari laki – laki yang saya cintai sekarang. Bolehkah kami menikah ?

FSI Al Kaun:
Boleh saja, karena jarak dia dan mbak sangat2 jauh. Lagian di antara kalian bukan mahram, jadi dipersilahkan menikah. Wallahua’lam.

Pa Ustad.. klo menikah dgn adik dr kakak ipar itu boleh. tp ku tanya,
Bolehkah menikahi wanita/adik dr adik ipar(LAKI2)?

FSI Al Kaun:
Tentu boleh saja Mas, karena memang ybs adalah bukan mahram anda, oleh karena itu anda diperbolehkan menikah dengannya. Wallahua’lam…

kalau sepupu perempuan termasuk mahram??

Bukan termasuk mahram dan anda bisa menikah dengannya. :-)
Wallahua’lam bish shawab.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya mau tanya: bolehkah saya menikah dengan sepupu ayah saya??? (Artinya: Ayah saya punya paman, kemudian paman itu punya anak cewek, trus saya dan cewek itu sama2 suka) apakah dri segi agama diperbolehkan??? trima kasih

FSI Al Kaun:
Wa’alaikumussalaam.
Diperbolehkan, karena dia bukan termasuk mahram anda, pak Mad.
Wallahua’lam bish shawab.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya mau tanya ustadz kalau kakak isteri satu ibu lain ayah apa boleh saya nikahi?
Terima kasih

FSI Al Kaun:
Wa’alaikumussalaam.
Asalkan istri anda sudah meninggal atau anda telah bercerai dengannya, maka menikahinya menjadi boleh. Wallahua’lam bish shawab

assalamu’alaikum…
keponakan dari bapak saya punya anak perempuan,,
klo itu bisa dinikahi apa tidak?

FSI Al Kaun:
Wa’alaikumussalaam.
Bisa dinikahi Pak Diaz, karena dia bukan termasuk mahram anda.
Wallahua’lam bish shawab.

mahram antara anak lelaki suami(anak tiri)dgn anak perempuan isteri

bagaimana jika saya menikahi anak perempuan dari kakak (saudara perempuan/uwak) ayah saya? boleh tidak?

FSI Al Kaun:
Boleh Pak Dedi, karena dia bukan mahram Pak Dedi maka boleh dinikahi…

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Permisi saya mau tanya, jika anak dari adik suaminya bu lik (pak lik). tapi pak lik dan adiknya itu tadi beda ibu. itu gmana mahram bukan??. dan seumpama saya nikah dengan dia hukum dalam islam gmana??. terima kasih sebelumnya….

FSI Al Kaun:
Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuhu
Tentu saja itu sudah bukan mahram, mbak Wiwit.
Bisa menikah dengan dia. Langsung menikah saja. :-)

assalamualaikum..
ada yg mngtakan bahwa sepupu dari belah ayah (maksud sya ayahnya adik kakak) tidak boleh menikah, benarkah? jika benar, mengapa? sebab ada yang mengatakan sepupu yg saya maksdkn blh menjadi wali utk sepupu perempuannya.. terimakasih…

FSI Al Kaun:
Wa’alaikumussalaam
Itu anggapan yang salah Mbak Rahma, karena saudara sepupu sudah bukan lagi termasuk mahram dan boleh diantara keduanya untuk menikah.
Wallahua’lam.

Ustadz, bolehkah ibu ( janda) menikah dengan adik ipar (istri meninggal). Tp keluarga serta anak2nya tdk ada yg setuju, baiknya bagaimana?

FSI Al Kaun:
Asalkan sudah lewat masa iddahnya, maka tidak mengapa. Tapi lebih baik mencari jodoh yang lain yang tidak menimbulkan fitnah antar sesama keluarga.
Wallahua’lam…

kalau anak dari saudara sesusuan (bukan anak ibu yang kita nyusu) boleh dinikahi tdk? syukron

FSI Al Kaun:
Nah karena dia masih mahram dari Thalib Ilmi, maka tidak boleh menikah dengannya, Mas.
Wallahua’lam

Asalamualaikum … Saya mau brtanya apakah boleh menikah dengan anak kakak.kakek saya.. Trimakasih

FSI Al Kaun:
Boleh Mbak Ovi, karena beliau bukan termasuk mahram anda.
Wallahua’lam.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bolehka saya menikah dengan anak dari sepupu (sepupu 1 kali) saya (om dengan ponakan)


Where's The Comment Form?

  • ADMIN’S YAHOO

    -Admin Web-

  • SOCIAL WEB

  • PERHATIKAN…!

  • BANNER SAHABAT

    aL FitraH's WebLog™

    Klik!

    chasing the pretty rainbow™

    Klik! untuk mampir ke blogku

    mahabbahtedja™

  • BANNER INFO

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: