Pertegas, bahwa Allah di atas ‘Arsy…!

Posted on 17 Oktober, 2008. Filed under: Aqidah & Tauhid | Tag:, , |

langit...

langit nian indah...

Allah yang menciptakan kita, mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehinga kita dapat menghadap kepadaNya dengan hati, do’a dan shalat kita. Orang yang tidak tahu di mana tuhannya akan tersesat, tidak tahu kemana ia menghadap kepada sembahannya, dan tidak dapat melaksanakan ibadah (penghambaan) kepadaNya dengan sebenar-benarnya. Sifat Mahatinggi yang dimiliki Allah atas makhluknya tidak berbeda dengan sifat-sifat Allah yang lain sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan hadits shahih, seperti : mendengar, melihat, berbicara, turun dan lain-lainnya.

Aqidah para ulama salaf yang shaleh dan golongan yang selamat “Ahlussunnah wal Jamaah” telah mengimani apa yang diberitakan Allah dalam Al-qur’an dan apa yang diberitakan Rasulnya dalam hadits, tanpa ta’wil (menggeser makna yang asli ke makna yang lain). Ta’thil (meniadakan maknanya sama sekali) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluknya). Hal ini berdasarkan firman Allah :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura : 11).

Sifat-sifat Allah ini, antara lain Mahatinggi dan bahwa Dia berada di atas makhluk, adalah sesuai dengan keagungan Allah. Oleh karena itu iman kepada sifat-sifat Allah tersebut wajib, sebagaimana juga iman kepada dzat Allah, Imam Malik ketika ditanya tentang firman Allah :

“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy.” (QS. Taha : 5).

Beliau menjawab : Istiwa itu sudah dimaklumi artinya (Yaitu : bersemayam atau berada di atas). Tetapi bagaiamana hal itu tidak dapat diketahui. Kita hanya wajib mengimaninya dan mempertanyakannya adalah bid’ah.”

Perhatikanah jawaban Imam Malik tadi yang menetapkan bahwa iman kepada “istiwa” itu wajib diketahui oleh setiap muslim, yang berarti : bersemayam atau berada di atas.tetapi bagaimana hal itu, hanya Allah saja yang mengetahi. Orang yang mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits -antara lain sifat Mahatinggi Allah mutlak dan Allah di atas langit- maka orang itu berarti telah mengingkari ayat Al-Qur’an dan hadits yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat kesempurnaan., keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapapun.

Usaha orang-orang yang datang belakangan untuk mentakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan sifat-sifat Alah, karena terpengaruh oleh filsafat yang merusak aqidah Islam, menyebabkan mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari dzatNya. Mereka menyimpang dari metode ulama salaf yang lebih selamat, lebih ilmiah dan lebih kuat argumentasinya. Alangkah indahnya pendapat yang mengatakan :

Segala kebaikan itu terdapat

Dalam mengikuti jejak ulama salaf

Dan segala keburukan itu terdapat

Dalam bid’ah yang datang kemudian.

KESIMPULAN :

Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang telah diterangkan Al-Qur’an dan hadits adalah wajib. Tidak boleh membeda-bedakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga hanya mau beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu Maha mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa Allah itu Maha tinggi di atas langit sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat MahatinggiNya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabnya dan sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam Fitrah dan cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.

ALLAH DI ATAS ARASY

Al-Qur’an, hadits shaheh, naluri dan cara berfikir yang sehat telah mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas arasy.

1. Firman Allah :

“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arasy.” (QS. Thaha : 5)

Pengertian ini sebagaimana diriwayatikan bukhari dari beberapa tabi’in.

2. Firman Allah :

“Apakah kamu merasa aman trehadap Yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu…? (QS. Al-Mulk : 16).

3. Firman Allah :

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka…” (QS. An-Nahal : 50).

4. Firman Allah tentang Nabi Isa ‘Alaihis salam :

“Tetapi Allah mengangkatnya …” (QS. An-Nisa’ : 158)

Maksudnya Allah menaikkan Nabi Isa ke langit.”

5. Firman Allah :

“Dan Dialah Allah (Yang disembah) di langit …” (Al-An’am : 3)

Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut : para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha suci Allah dari ucapan mereka.”

Adapun firman Allah :

“Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada …” (QS. Al-Hadid : 4).

Maksudnya bahwa dia bersama kita : mengetahui, mendengar dan melihat kita di manapun kita berada. Apa yang disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut, seperti keterangan dalam tafsir Ibnu Katsir.

6. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam mi’raj ke langit ketujuh dan difirmankan kepadanya oleh Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (riwayat Bukhari dan Muslim).

7. Sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam :

“Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal aku dipercaya oleh Allah yang berada di langit.? (HR. At Tirmidzi).

8. Sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam :

“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit (Allah) akan menyayangimu.” (HR. At Tirmidzi).

9. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam pernah menanyai seorang budak wanita :

“Di mana Allah?” jawabnya : “Di langit”,” Rasululloh bertanya lagi : “siapa saya?” dijawab lagi : “Kamu Rasul Allah.” Lalu Rasululloh bersabda :

“Merdekakanlah dia karena dia seorang mu’minah.” (Hadits Riwayat Muslim).

10. Sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam :

“Arsy itu berada di atas air, dan Allah berada di atas Arsy, Allah mengetahui keadaan kamu.” (Hadits hasan riwayat Abu Daud).

11. Abu Bakar shiddiq berkata : “Barangsiapa menyembah Allah, maka Allah berada di langit, Ia Maha hidup dan tidak mati.” (Riwayat Imam Darimi dalam al radd alal jahmiyah).

12. Abdullah bin Mubarak pernah ditanya : “Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?” Maka beliau menjawab : “Tuhan kita berada di atas langit, di atas Arsy, berbeda dengan makhluknya. “Maksudnya : dzat Allah berada di atas Arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluknya, dan keadaanya di atas Arsy tersebut tidak sama dengan mahkluk.

13. Para imam empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal) telah sepakat bahwa Allah berada di atas Arsy, tidak ada seorangpun dari makhluk yang serupa denganNya.

14. Orang yang sedang shalat selalu mengucapkan : “Subhana Rabbial A’laa (Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdo’a, ia juga mengangkat tangannya dan menadahkan ke langit.

15. Anak kecil ketika anda tanya di mana Allah, dia akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di langit.

16. Cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah di langit. Seandainya Allah ada di semua tempat, niscaya Rasululloh pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di segala tempat, berarti Allah juga berada di tempat-tempat najis dan kotor. Maha suci Allah dari anggapan yang demikian itu.

17. Pendapat yang mengatakah bahwa Allah berada di segala tempat, berarti bahwa Dzat Allah itu banyak, karena banyaknya tempat. Akan tetapi karena Dzat Allah itu satu, dan mustahil banyak, maka pendapat yang mengatakan bahwa Allah berada di segala tempat adalah batil. Maka tentulah Allah itu di langit, di atas Arsy-Nya, dan dia bersama kita : mengetahui, mendengar dan melihat kita di manapun kita berada.

Dikutip dari buku Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat, Muhammad Ibn Jamil Zainu.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “Pertegas, bahwa Allah di atas ‘Arsy…!”

RSS Feed for FSI Al Kaun’s Weblog™ Comments RSS Feed

assalamualaikum…
afwan ana mau copy paste artikelnya?
soale tadi searching digoogle jatuhnya keblog antum…he he he🙂
gpp kan, biasalah orang baru…….blognya juga baru
sementara ini blog punya ana masih copypaste semua….
Baarakallahu lak

saya tidak ingin menyangkal apa yang telah disampaikan diatas bahwa Allah ada diatas arsy karena memang dalil2nya sdah jelas baik di dalam Al Qur’an ataupun Alhadits…tapi saya hnya ingin tau pndapat ikhwan2 Alkaun…ada yang berpendapat bahwa mnyatakan Allah ada di atas arsy bkanlah sama saja menyamakan Allah dngan makhluk???krena dsitu Allah diumpamakan sbagai seorang raja yang duduk diatas singgasana..padahal bkanlah Allah itu bersifat mukholafatu lilhawaditsi(bda dngan makhluk} krena itu Allah bda dengan raja2 yg ada di dunia…Allah jga brsifat qiyamuhu binafsihi(brdiri sndiri)jadi Allah tdak perlu arsy untuk bersemayam…mhon djawab!!!!

Admin’s answer:
Justru kami ingin mengkonfirmasi, mana dalil dari alquran atau as sunnah yang menyatakan sifat Allah ta’ala itu adalah mukholafatu lil hawaditsi…?

Bersemayamnya Allah di atas arsy itu tidak berarti menyamakan Allah dengan makhluk, mas Agil. Sebagaimana Allah juga punya wajah, punya tangan, punya kaki.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa beliau berkata :

وأن له يدين بقوله (بل يداه مبسوطتان) وأن له يميناً بقوله (والسموات مطويات بيمينه) , وإن له وجهاً بقوله (كل شيء هالك إلا وجهه), وقوله (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام) وأن له قدماً بقول النبي صلى الله عليه وسلم (حتى يضع الرب عز وجل فيها قدمه) يعني جهنم …

“Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan dengan dalil firman-Nya : “Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64). Dia juga memiliki wajah dengan dalil firman Allah : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah” (QS. Al-Qashaash : 88) dan juga firman-Nya : “Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rahmaan : 27). Dia juga mempunyai kaki dengan dalil sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Hingga Rabb (Allah) ‘azza wa jalla meletakkan kaki-Nya padanya…” (HR. Bukhari dan Muslim) yaitu pada neraka” [Thabaqat Al-Hanabilah oleh Al-Qaadliy Abu Ya’la Al-Farraa’, 2/269, tahqiq : Dr. ‘Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin; Cet. Tahun. 1419].
Lantas apakah sama kaki Allah, tangan Allah dan wajah Allah dengan kepunyaan makhluk…? Gimana mas Agil…?
Jelas berbeda…!
Sebagaimana perbedaan wajah, tangan dan kaki Allah dengan kepunyaan makhluk, maka bersemayamnya Allah dengan bersemayamnya raja – raja di dunia ini berbeda.

Syaikhul-Islam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata :

ولا يعتقدون تشبيهاً لصفاته بصفات خلقه ، فيقولون: إنه خلق آدم بيديه ، كما نص سبحانه عليه في قوله عزّ من قائل: قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ، ولا يحرفون الكلم عن مواضعه ، بحمل اليدين على النعمتين أو القوتين ، تحريف المعتزلة والجهمية أهلكهم الله ولا يكيفونهما بكيف، أو يشبهونهما بأيدي المخلوقين، تشبيه المشبهة خذلهم الله

“Mereka (Ahlul-Hadits) tidak meyakini sifat-sifat itu dengan cara menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Mereka mengatakan bahwa Allah ta’ala telah menciptakan Adam ‘alaihis-salaam dengan dua tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an : “Allah berfirman : ‘Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak menyimpangkan Kalamullah dari pengertian yang sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau dua kekuatan sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’tazillah dan Jahmiyyah – semoga Allah membinasakan mereka – . Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak me-reka-reka bentuknya dan menyerupakannya dengan tangan makhluk-makhluk, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Musyabbihah – semoga Allah menghinakan mereka –“ [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits oleh Abu ‘Utsman Ash-Shabuni, hal. 26, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415]

Jelas, mas Agil…? Jika belum, maka belajarlah dulu bersama kami, kemudian baru berkata – kata…

Sekarang PR buat mas agil, MANA DALIL DARI ALQURAN ATAU AL HADITS/AS SUNNAH bahwa ALLAH punya sifat MUKHALAFATU LIL HAWADITSI…??? JAWAB…!!!!!!!


Where's The Comment Form?

  • ADMIN’S YAHOO

    -Admin Web-

  • SOCIAL WEB

  • PERHATIKAN…!

  • BANNER SAHABAT

    aL FitraH's WebLog™

    Klik!

    chasing the pretty rainbow™

    Klik! untuk mampir ke blogku

    mahabbahtedja™

  • BANNER INFO

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: