Jawaban Pertanyaan Studi Islam Intensif 2

Posted on 1 Juni, 2009. Filed under: Berita Aktual | Tag:, , , |

images1. Di antara kriteria – kriteria pemimpin yang telah disebutkan di acara sesi III, SII 2 FSI Al Kaun Teknik Lingkungan, manakah prioritas yang harus didahulukan dalam memilih pemimpin?

2. Dalam organisasi, berhasil terpilih seorang pemimpin laki – laki. Namun dia membawa serta mengusung para ketua departemen/petinggi staf dari kalangan akhwat yang insya Allah baik dan mampu membuat semangat staf/anggota yang lain menjadi bersemangat dan giat dalam bekerja. maka apakah hal ini diperbolehkan…? Berikan alasannya…!

3. Apakah akhwat diperbolehkan mengikuti aksi turun ke jalan, seandainya aksi tersebut bukanlah aksi mencela pemimpin…? Semisal aksi sosial dan aksi damai…? Mohon penjelasannya…!

Jawab…

Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuhu…

Di bawah ini adalah jawaban dari ketiga soal di atas…

  1. Sebagaimana telah diketahui bahwa di antara syarat – syarat pemimpin adalah muslim, berilmu dan sehat fisik serta dari kalangan laki – laki. Akan tetapi dari ketiga syarat tersebut manakah yang didahulukan dalam memilih pemimpin yang tepat dan ideal bagi sebuah organisasi, instansi serta pemimpin negara sekalipun…

Dalam hal ini, maka syarat muslim, tetap menjadi syarat utama yang harus diperhatikan dalam memilih seorang pemimpin. Ini semua tidak lepas dari perintah Allah ta’ala dalam, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin… (QS. Ali Imran : 28). Dan telah jelas bagi kita, bahwa ayat – ayat atau hadits nabi yang mengandung larangan, maka ia harus ditinggalkan secara mutlak. Hal ini sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, …apa–apa yang aku larang maka tinggalkanlah dan apa-apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampumu…(HR. Al Bukhari, no.7288 dan HR. Muslim, no 1337)

Kemudian syarat yang kedua yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin adalah LAKI – LAKI. Hal ini didasari dengan keumuman dan kesharihan (kejelasan) dalil yang mewajibkan seorang pemimpin adalah harus dari kalangan laki – laki. Sebagaimana difirmankan oleh Allah ta’ala dalam Firman-Nya,” Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An Nisa’ : 34)… kemudian datanglah ancaman kehancuran terhadap sebuah negeri atau komunitas apapun yang menaruh tampuk kepemimpinan mereka di tangan seorang wanita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Tidak akan bahagia suatu kaum, bila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada seorang wanita.(HR. Al Bukhari, no.4073)

Dan baru kemudian, syarat yang harus dipertimbangkan dan diseleksi dengan baik adalah keilmuan/kemampuan seorang pemimpin dalam mengilmui urusan kepemimpinan yang akan dia jalankan serta memiliki kesehatan fisik yang baik sehingga dia bias menjalankan tugasnya tanpa adanya suatu hambatan yang berarti.

Wallahua’lam…

2. Jika sebuah organisasi telah dipimpin oleh seorang laki – laki sedangkan untuk membantu tugas – tugasnya dia memilih wanita untuk menangani tugas (menjadi ketua departemen), maka keputusan ini kurang/bukanlah keputusan yang baik. Hal ini dikarenakan seorang wanita dalam tataran terbaik di dalam islam merupakan sosok yang dipimpin oleh laki – laki. Dan Allah telah menyatakan bahwa hendaknya kepemimpinan diletakkan pada seorang laki – laki. ” Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An Nisa’ : 34) Maka tatkala Allah telah menyatakan demikian, hendaklah seorang hamba sami’na wa atha’na…(mendengar dan mentaati). Disamping itu, dibandingkan dengan wanita, seorang laki – laki telah dilebihkan oleh Allah ta’ala dalam beberapa urusannya. Allah ta’ala berfirman,” oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)…(QS. An Nisa’ : 34), dan di sisi lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati seorang wanita sebagai makhluk yang bengkok dan hendaknya wanita dinasehati dengan lembut. Beliau bersabda,” …dan berbuat baiklah kepada wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, jika engkau meluruskannya maka engkau akan patahkan ia, namun jika engkau biarkan saja, maka dia akan tetap bengkok, maka nasehatilah wanita dengan baik. “(HR. Al Bukhari, no.5186 dan HR. Muslim, no.47)

Berangkat dari ayat yang mulia dan hadits yang agung inilah, maka seorang laki – laki lebih diutamakan untuk membantu seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya.

Namun apabila seorang laki – laki yang telah dipilih pemimpin ternyata tak sepandai wanita, tak memiliki kemampuan sebagaimana kemampuan wanita tadi, maka hendaknya ketua departemen tetap dipegang oleh seorang laki – laki sebagai pengambil keputusan, namun diperbolehkan bagi wanita tersebut untuk memberikan saran – saran dari pemikirannya yang baik untuk kemajuan sebuah institusi. Wallahua’lam…

3. Seorang wanita tidaklah diperbolehkan untuk mengikuti demonstrasi yang di situ banyak mengumbar aib – aib dan menjelek – jelekkan pemimpin. Dan perkara ini telah jelas, namun apakah wanita diperbolehkan untuk mengikuti aksi damai atau aksi turun ke jalan sebagaimana aksi sosial…? Untuk menjawabnya, mari kita kupas lebih dalam tentang perkara ini dengan bimbingan alquran dan sunnah nabi yang shahih…

Di dalam tataran ideal seorang muslimah yang beriman seharusnya berada di dalam rumahnya, mereka merawat dirinya, menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya, dan menyibukkan dirinya dengan dzikir-dzikir yang bermanfaat bagi dirinya. Sebab Allah telah berfirman Dan hendaklah kamu TETAP di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya…” ( QS. Al Ahzab : 33 ).

Di dalam hal itu bukan berarti pula seorang wanita tidak diperbolehkan untuk keluar rumah secara mutlaq. Tentunya alasan yang menyebabkan seorang wanita keluar rumahnya haruslah dengan alasan syar’i, seperti membantu tetangga yang akan melaksanakan walimah, membeli urusan dapur, menuntut ilmu syar’i, hendak melaksanakan shalat berjamaah, dan segala hal lainnya yang sesuai dengan syari’at juga mengetahui batasan-batasannya.

Adapun saat ini sebagian wanita muslimah tidak lagi memperhatikan hal ini, mereka dengan sekehendak hatinya keluar dari rumah tanpa ada alasan syar’i dan hajat yang sangat mendesak. Padahal hal ini tidak diperbolehkan, apalagi aksi sosial / aksi damai maka hal ini lebih tidak diperbolehkan lagi. Maka entah hal tersebut merupakan tuntunan darimana dan bagaimana mereka bisa menutup mata terhadap fenomena yang sangat urgen dengan terbengkalainya hal-hal yang sangat diwajibkan, diantaranya ialah :

  1. Shalat wajib mereka, biasanya dalam demonstrasi tidak ditunaikan dengan tepat waktu disebabkan sibuk long march dan orasi tiada henti, padahal Al Imam Mufassirin yang termasuk Shahabiyun Jalil yang didoakan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ibnu ‘Abbas radhiyaullohu ‘anhu mengatakan ketika menafsirkan ayat “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” ( QS. Maryam : 59 ) ialah “ menyia-nyiakan shalat bukan berarti meninggalkannya sama sekali, akan tetapi mengakhirkan dari waktunya “ ( dinukil dari Abu Maryam Majdi Fathi As Sayyid dalam Tuhfatun Nisa ; terj. B. Indonesia “ Bingkisan Istimewa untuk Wanita Muslimah “ ).
  2. Mereka pula terkadang melupakan untuk berdzikir pagi dan petang karena telah terlanjur repot dengan persiapan demonstrasinya atau bahkan tak pernah menghapalkannya padahal Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda “ Setiap pagi wajib atas anggota badan setiap orang sedekah, maka setiap tasbih sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap tahlil sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf sedekah, setiap nahi mungkar sedekah, dan dua rakat shalat dhuha mencukupi semua itu.” ( HR. Muslim 720, Abu Dawud 5234, hadits dari Abu Dzar radhiyaullohu ‘anhu ),
  3. Diantara para al mar’ah pun terkadang tidak mengetahui batasan syari’atnya dengan seringkali dijumpai ikhtilath dengan yang bukan mahramnya. Padahal Dengan tegas Rasululloh telah bersabda : ” Wanita adalah aurat, bila ia keluar maka syetan akan menganiayanya. Dan tempat yang lebih mendekatkanya dengan Rabbnya adalah bila ia di dalam rumahnya. (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan Albani dalam Shahih Ibnu Huzaimah hadits: 1685, hadits diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyaullohu ‘anhu).
  4. Para muslimah pun menjadi memandang yang tak karu-karuan baik itu memandang ikhwan dari jemaahnya yang dianggap oleh sebagian dari muslimah tersebut sopan dan memiliki jiwa aktivis islami, hingga ikhwan yang bukan dari jemaahnya bersama dengan kekasihnya ( pacarnya ), sehingga tak tertutup kemungkinan pula terkadang di sebagian dari mereka yang taqlid secara mutlak dan ikut-ikutan meramaikan acara demonstrasi menjadi iri kepingin pacaran. Padahal Alloh telah berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung “ ( QS. An Nur : 30 -31 ).
  5. Terlihat pula seorang ibu – ibu yang menggendong anaknya ikut berpanas-panasan ria dan turut asyik mendukung aksi suaminya yang sedang berorasi, bisa jadi diantara mereka tidak mengetahui bahwa panas yang terlalu terik bagi anak bayinya sungguh sangat tidak baik untuk kesehatan si kecil.
  6. Dan yang paling sangat menggangu dengan adanya demonstrasi tersebut ialah laju kendaraan orang lain pun ikut tersendat-sendat, merasakan kemacetan di tengah panas hari, dan banyak orang yang terbengkalai waktunya disebabkan kemacetan orang yang berdemonstrasi. Bukankah Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dari hadits yang dikatakan oleh Abu Hurairah : “ Setiap anggota badan manusia diwajibkan setiap hari manakala matahari terbit, engkau berlaku adil terhadap dua orang adalah sedekah, membantu seseorang naik keatas kendaraanya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah  sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah. “ ( Mutafaqun ‘Alaih ). Mengapa kita justru menghalang-halangi jalan saudara kita sesama muslim, tidak lekas bersegera untuk menunaikan shalat, dan sebagainya…?
  7. Di antara aksi-aksi demonstrasi tersebut terkadang terselip ‘pesan sponsor’ yang berharap agar sponsornya itu dapat meraih faedah dan keuntungan pula dengan melakukan mobilisasi yang dilakukan oleh para wanita muslimah. Contoh kecilnya menggunakan atribut atau bendera suatu golongan tertentu, dan si empunya atribut berharap khalayak ramai memilih golongan itu di suatu hari. Atau dengan kata lain aksi – aksi yang kita gembar-gemborkan bukan suatu hal yang dipenuhi dengan ‘ke-ikhlasan’ ber amar ma’ruf nahi mungkar melainkan kepingin sponsornya dimana ia tergabung dapat meraih keuntungan.

Adik – adikku muslimah yang baik, karena muslimah adalah mutiara. Maka bergembiralah dengan berita terbesar yang dapat meluruhkan kesedihan kalian, sebuah kabar agung dari lisan Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radliyallahu’anhu, berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Jika seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, menjaga kemaluannya, mentaati suaminya, maka dikatakan kepadanya,” MASUKLAH KE DALAM SURGA DARI PINTU MANA SAJA YANG ENGKAU KEHENDAKI.”(HR. Ahmad, no.1664 dalam Al Adabuz Zifaf, hal.286)

Maka merasa cukuplah dengan janji Nabi kita yang mulia, shallallahu ‘alaihi wa sallam itu…

Wallahua’lam bish shawab, dijawab oleh pemateri dengan keterbatasannya.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Jawaban Pertanyaan Studi Islam Intensif 2”

RSS Feed for FSI Al Kaun’s Weblog™ Comments RSS Feed

jazakumullah katsir mas Didit buat ilmunya.

susahnya sekarang, para ikhwan2 qt agak tawadu’
kalo dMinta buat jadi calon ketua, agak gmn gt…….
perlu sdkit “motivasi” dr yg lbh senior mgkn,


Admin says:

Waiyyaka ahsanal jaza’…
insya Allah akan kami sampaikan kepada akh Didit-nya. Terima kasih akhi…

jazzakallahu khoir atas jawabannya….

Admin’s answer :
wa iyyaka ahsanal jaza’…


Where's The Comment Form?

  • ADMIN’S YAHOO

    -Admin Web-

  • SOCIAL WEB

  • PERHATIKAN…!

  • BANNER SAHABAT

    aL FitraH's WebLog™

    Klik!

    chasing the pretty rainbow™

    Klik! untuk mampir ke blogku

    mahabbahtedja™

  • BANNER INFO

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: